Di tengah gencarnya proxy-war yang taut-menaut dengan berbagai variabel viralitas sebuah opini di media massa berbasis digital, terlihat jelas bahwa sikap abai terhadap opinionisasi yang cacat dan tak berimbang bukan lagi pilihan.

Kita tentu belum lupa hebohnya trend Gaj Ahmada sebagai klaim terhadap Gajah Mada atau pernyataan Anies Baswedan yang anakronistik menyatakan bahwa Partai Arab Indonesia-lah yang pertama menyatakan sikap tegas nasionalisme sebagai bangsa Indonesia. Dua kepicikan sejarah, yang entah dengan motif apa, jelas-jelas menganggap sepi rentetan proses tercapainya identitas kebangsaan Indonesia. Yang kedua lebih berani sebab tanpa malu menelanjangi dirinya di hadapan para pewaris saksi perjuangan lahirnya Sumpah Pemuda.

Ilustrasi via Siswonesia.Com

Menjadi waras di tengah kepicikan semacam ini membawa konsekuensi sikap untuk menyampaikan aspirasi, setidaknya untuk mengurangi polusi di blogosphere yang kian hari diisi oleh berbagai wacana pemelintiran sejarah. Mudah-mudahan, di tengah gencarnya like, share, tweet, retweet terhadap isu-isu polutif itu, tulisan sederhana ini bisa menjadi sebuah counter-opinion bagi mereka yang ingin menjaga kewarasan.


Beberapa hari terakhir ini, muncul Dr. Ir. Masri Sitanggang yang menulis di Jossss.Com dan Tampang.Com.  Kedua tulisan tersebut terlihat nada clickbait yang jelas sejelas-jelasnya tentu dengan maksud supaya dibaca banyak orang. Tulisan pertama berjudul “Dr. Ir. Masri Sitanggang: CATAT, SAYA SEORANG RADIKAL!”. Sementara tulisan kedua diberi judul “Jaman Penjajah Dahulu, Kristen Katolik Berpihak Kepada Penjajah, Apakah Saat Ini Juga?”. 

Setelah membaca kedua tulisan Masri tersebut, terlihat jelas sebuah upaya framing yang berisi agenda pembenturan komunitas kolektif penghuni utama republik ini: Umat Islam vs Kristen. Saya mencoba membersihkan praduga dan asumsi, menguji seberapa besar subjektifitas yang juga mungkin Saya idap. Jangan-jangan Saya juga tanpa sadar memposisikan diri sebagai apologet sejarah kebangsaan yang membawa agenda pribadi. Tetapi, hasilnya tetap sama: Ini pemelintiran sejarah edisi berikutnya. Pemelintiran sejarah dan pembenturan kelompoknya sangat mirip dengan dua isu di atas.

Pada tulisan pertama, Masri mengidentifikasi dirinya sebagai seorang pengusung ideologi Pancasila sesuai warisan founding fathers, mengutip Enyclopaedia Brittanica untuk menelusuri perkembangan semantik kata “radikal”, tapi anehnya berakhir dengan kesimpulan bahwa pemerintah melakukan upaya mendiskreditkan umat Islam. Ia antara lain menulis:

Tidak ada yang menyebut aksi Ahokers sebagai radikal, malah seperti ada pembiaran (kalau bukan difasilitasi) aparat terhadap aksi itu. Padahal, di situ ada kericuhan, ada upaya merobohkan gerbang Lapas Cipinang, melewati batas waktu ketentuan berunjuk rasa dan bahkan ada yang menginap; jangan ditanya soal taman yang rusak dan sampah yang berserakan! Inilah yang membuat saya bertambah enneg.  Tetapi, biarlah apa kata orang, saya harus tetap menjadi seorang radikal. Sebagai seorang yang berpendidikan doktoral (Phylosophy Doctor), saya memang harus membiasakan diri berpikir radikal dan tak mau larut dengan opini sesat. Sebagai penganut agama Islam, yang saya yakini kebenarannya, saya juga harus bersikap radikal dan tidak kompromi terhadap kejahiliyahan.  Bagi saya, radikal atau radikalisme itu sesungguhnya adalah hal yang wajar dan biasa-biasa saja …

Sebuah pengambilan kesimpulan yang aneh dan sarat agenda tersembunyi. Padahal, di tulisan yang sama ia menyatakan:

Sekali lagi, radikalisme adalah gejala alam biasa yang muncul mengikuti hukum kausalitas. Dalam kehidupan sosial politik ia hanyalah respon terhadap keadaan yang sedang berlangsung, yang menurut Horace M Kallen (1972), muncul dalam bentuk evaluasi, penolakan, atau bahkan perlawanan terhadap asumsi, ide, lembaga, atau nilai-nilai yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan keadaan yang ditolak. Oleh karena itu, radikalisme tidak terkait dengan kelompok masyarakat atau agama tertentu.

Saya belum menemukan ada kaitan apa antara pengelola website Jossss.Com dengan Tampang.Com sebab di portal kedua, orang yang sama menulis: “Jaman Penjajah Dahulu, Kristen Katolik Berpihak Kepada Penjajah, Apakah Saat Ini Juga?”. 

Masri mengutip berbagai sumber untuk mengajak pembaca membolak-balik buku sejarah mereka. Ia mulai dari serangan Portugis ke Kesultanan Malaka di sekitar tahun 1511, kaitannya dengan Perang Salib pascaputusan Paus Alexander VI yang membagi membagi dua kekuasaan di dunia, masing-masing belahan Barat dan Timur untuk Spanyol dan Portugis. Kemudian ia menguraikan rentetan sejarah yang terjadi di Nusantara dengan mengidentifikasi penyebar agama Kristen sebagai persis sama dengan agenda perebutan sumber-sumber ekonomi di Nusantara (rempah-rempah).

Sampai disini, tidak ada yang janggal. Umum kita ketahui bahwa misonaris Katolik dan Kristen memang datang bersama dengan ekspedisi bangsa-bangsa Eropa  ke Nusantara, sama seperti penyiar agama Islam datang bersama dengan ekspedisi pedagang dari Persia dan India.

Agenda pembenturan mulai terlihat ketika Masri mulai melakukan dikotomisasi serba Kristen vs serba Islam. Sampai-sampai ia menyebut bahwa Sisingamangaraja XII adalah seorang muslim. Padahal, jelas Sisingamangaraja XII adalah pendiri aliran kepercayaan Parmalim. Semoga ini tidak berkaitan dengan putusan Mahkamah Konstitusi baru-baru ini yang mengakomodasi aliran-aliran kepercayaan di Nusantara (antara lain Parmalim) untuk diakui di KTP. Kita boleh bertanya kepada pemeluk Parmalim untuk mengkonfirmasi hal ini.

Indikasi pembenturan berikutnya adalah penggiringan opini yang dilakukan Masri dengan menyebut:

Begitulah perjuangan Ummat Islam memerdekakan bangsa ini dari penjajah Katolik Portugis, begitu pula di masa penjajah Protestan Belanda serta Inggris dan demikian juga di masa mempertahankan kemerdekaan dari sekutu.

 

Pemelintiran Sejarah melalui simplifikasi berlebihan oleh Masri Sitanggang

Jika seseorang mau mengikuti dialektika sejarah Nusantara secara utuh, niscaya yang bersangkutan akan sampai pada realitas tak terbantahkan: Seluruh elemen bangsa memberi kontribusi terhadap pergerakan kemerdekaan. Bukan hanya oleh suku tertentu saja, juga bukan oleh satu agama saja.

Kita bisa langsung melakukan konfrontasi terhadap simplifikasi pembacaan sejarah yang ditawarkan Masri Sitanggang dengan mengurai fakta bahwa agama Kristen sebenarnya sudah muncul di Nusantara lebih awal dari yang dibayangkan banyak orang.

Seperti dimuat oleh Tirto, menurut Gerry van Klinken dalam 5 Penggerak Bangsa Yang terlupakan: Nasionalisme Minoritas Kristen (2010):

“Kemungkinan, sebelum Borobudur dibangun, telah ada orang-orang Kristen di Kepulauan Indonesia. Penjelajah Persia bernama Abu Saleh al Armini, pada abad ke-7, sudah melihat adanya gereja-gereja di sekitar Sibolga, Sumatra Utara. Gereja-gereja itu kemungkinan pengaruh dari Kristen Nestorian dari Persia. Namun, setelah kedatangan Belanda agama ini (jauh lebih) berkembang.”

Orang-orang Kristen di era kolonial Belanda punya akses yang lebih baik kepada institusi pendidikan. Dari sekolah, mereka mengenal huruf latin yang membuat mereka bisa dipekerjakan orang-orang Belanda dan menyerap banyak buah kemajuan kebudayaan Barat. Kebanyakan berasal dari Minahasa, Ambon, Batak, juga Timor.

Sebagai bagian dari anak bangsa terjajah, orang-orang Kristen, baik Protestan maupun Katolik, juga banyak yang terlibat dalam pergerakan nasional. Namun kiprah mereka dalam pergerakan sering diabaikan karena cap Kristen sebagai agama (yang dibawa) penjajah. Mudah untuk mengatakan orang-orang Kristen sebagai antek Belanda karena cap sebagai agama penjajah itu.

Padahal dinamikanya tidaklah hitam putih. Sebagaimana orang bumiputera yang tak sedikit berpihak pada kolonialisme, begitu juga orang-orang yang beragama Kristen. Akan tetapi, pengalaman pahit sebagai anak bangsa jajahan juga melahirkan manusia-manusia yang berkomitmen kuat untuk merealisasikan kemerdekaan dengan pelbagai cara dan jalan: dari yang kooperatif maupun yang radikal.

Dalam bukunya, van Klinken mencatat bagaimana Toedoeng Goenong Moelia, tokoh Kristen asal Batak—yang menurut van Klinken tidak begitu dekat dengan pergerakan nasional—bersikap kritis kepada pemerintah kolonial sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat).

Di masa Gubernur Jenderal De Jonge, Moelia menyebut, “Gubernur Jenderal tidak mampu memobilisasi kaum intelektual Indonesia yang koperatif sekalipun. Dia mengubah Hindia menjadi hampir sebuah negara polisi. Dia menindas kaum miskin dengan pajak dan membuat mereka menanggung biaya proteksi bisnis besar di masa depresi ekonomi.”

Selain Goenoeng Moelia, dari kalangan Katolik ada Ignatius Kasimo. Menurut van Klinken, awalnya Kasimo juga tidak begitu dekat dengan kalangan pergerakan nasional lain. Namun, sebagai anggota Volksraad dari wakil orang-orang Katolik, dia terlibat bersama Gabungan Politik Indonesia (GAPI).

“Baik Toedoeng Goenong Moelia maupun Kasimo termasuk dalam kaum nasionalis koperatif pada akhir periode penjajahan (Kolonial Belanda),” tulis van Klinken.

Dibanding Goenoeng Moelia, sepupunya yang masih beragama Islam, bisa lebih intens mengarungi arus pergerakan nasional. Si sepupu, Amir Sjarifoeddin, “adalah salah satu sosok yang keras dalam sejarah nasionalis Indonesia,” tulis an Klinken.

Amir Sjarifoediin, yang kelak menjadi Perdana Menteri pada 1947, adalah salah satu anggota Jong Batak ketika menjadi mahasiswa Recht Hoge School (sekolah hukum) di Betawi, ikut serta dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II. Belakangan ia bergabung dengan mahasiswa dan pemuda Islam Sumatra di Jong Sumatranen Bond. Amir dibaptis sebagai Kristen di Gereja HKBP di Kernolong, Betawi, pada 1931.

Pada masa pendudukan Jepang, Amir tidak menghentikan aktivisme pergerakan. Ia banyak bergerak di bawah tanah, membangun sel-sel perlawanan, di tengah kepungan mata-mata Jepang. Amir sempat tertangkap dan bahkan dihukum mati. Lobi para pemimpin Indonesia yang saat itu bekerja sama dengan Jepang, termasuk Sukarno dan Hatta, membuat Amir selamat dari eksekusi.

Salah seorang tokoh penting lain yang bergabung di sana adalah seorang dokter Ambon bernama Johannes Leimena. Seperti Amir, Leimana yang bergabung dalam Jong Ambon juga masuk dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II tahun 1928. Ketika itu Leimana adalah mahasiswa kedokteran STOVIA.

Leimana bukan satu-satunya pemuda Maluku berlatar budaya Kristen yang masuk dalam kancah pergerakan nasional.

Ada nama Alexander Jacob Patty, yang lebih senior dari Leimana, pernah kuliah kedokteran di NIAS (meski tak jadi dokter seperi Leimana). Jacob Patty dikeluarkan dari sekolah kedokteran karena berpolitik. Ia dikenal sebagai pendiri Sarekat Ambon pada 1920. Patty berusaha menggalang orang-orang Ambon dalam pergerakan nasional. Ia dibuang ke Boven Digoel, lalu ke Australia, dan pulang ke Tanah Air setelah Indonesia merdeka.

Ada pula Johannes Latuharhary, yang baru pulang ketika Kongres Pemuda II. Ia ikut pergerakan setelah lulus sebagai Meester in Rechten dari Universitas Leiden, dan kemudian bekerja di Pengadilan Surabaya. Ia ikut memimpin Sarekat Ambon. Setelah jadi hakim dan menjadi ketua pengadilan negeri di Jawa Timur, ia memutuskan keluar dari pekerjaannya yang nyaman demi bisa lebih aktif di pergerakan nasional.

Dari Minahasa, orang Kristen lain yang punya nama harum adalah Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangie atau Sam Ratulangie. Kawanua Minahasa ini ikut pergerakan nasional sejak muda. Bersama Husni Thamrin, Ratulangie menjadi anggota Volksraad yang getol menentang kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat bumiputera.

Selain Ratulangie, setidaknya ada perempuan yang begitu peduli pada pendidikan perempuan di Minahasa bernama Maria Walanda Maramis. Perempuan bernama lengkap Maria Josephine Catherine Maramis ini sudah diakui jasanya sebagai pahlawan nasional, seperti Ratulangie. Ia pendiri organisasi bernama Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (Pikat).

Menurut G.A. Ohorella dkk. dalam Peranan Wanita Indonesia dalam Masa Pergerakan Nasional (1992), Pikat telah mendorong kesadaran kaum perempuan di Minahasa dan Sulawesi pada umumnya untuk berorganisasi. Setelah 1920, jumlah perkumpulan perempuan semakin banyak. Organisasi politik pun memberi perhatian lebih dengan menyokong pembentukan organisasi sayap yang khusus bergerak di bidang pemberdayaan perempuan.

Ada juga Thomas Najoan, tokoh buruh dari sayap kiri dan ikut mendirikan PKI. Sutan Sjahrir menilai bahwa kebaikan dan kemanusiaan Najoan adalah karena ia seorang Kristen yang baik. Najoan, dengan “imannya” yang anti-kolonialisme, berkali-kali mencoba kabur dari Digoel yang ganas. Ia tak sudi tunduk dengan iming-iming Belanda agar mau bekerja sama.

“(Najoan) seorang manusia yang baik, berbudi luhur, dan berpendidikan. Rasa humanitasnya yang besar berasal dari etika agama Kristen; ia seorang Manado dan berasal dari keluarga Kristen,” kata Sjahrir dalam Renungan dan Perjuangan (1990).

Sementara Arnold Mononutu menjadi cermin dari keliatan sikap seorang nasionalis yang keras kepala. Bagi Ahmad Syafii Maarif, seperti ditulis dalam Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah (2009), Mononutu adalah sosok unik. Ia Kristen tapi bukan bagian dari Parkindo (Partai Kristen Indonesia). Ia kader Partai Nasional Indonesia yang didirikan Sukarno. Mononutu telah melawan Belanda dengan begitu heroik dan penuh pengorbanan di masa mudanya sejak bersekolah di Belanda. Ia membuang masa depan hidupnya yang mapan.

Mari kita urai lebih jauh bahwa atribut keagamaan tidak definitif dalam penentuan sikap membela pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia atau berkompromi dengan penjajah.

Tidak hanya umat Islam, Orang Kristen pun ikut dalam Perjuangan

Setelah munculnya Boedi Oetomo (1908) yang dianggap Jawa, diikuti Sarekat Dagang Islam (1911) yang dianggap manifestasi Islam, orang-orang Kristen mulai masuk gelanggang pergerakan. Tokoh indo Belanda Ernest Douwes Dekker, yang di tahun 1913 belum masuk Islam, bersama Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat, sudah mendirikan Indische Partij (Partai Hindia) yang tak hanya menerima orang-orang Jawa atau Islam saja.

Jika semacam Boedi Oetomo dalam memajukan pendididikan, serdadu-serdadu KNIL Ambon, juga tergolong peduli pada pendidikan saudara-saudaranya. Mereka sering mengumpulkan uang untuk pendidikan sesama Ambon ke Ambonsche Studie Vond. Meski orang-orang Ambon yang jadi serdadu KNIL Belanda dianggap sadis pada Republiken, karena ulah sebagian dari mereka saja, sebenarnya banyak orang Ambon juga nasionalis.

Ambonschool adalah sekolah dasar kolonial khusus orang Ambon. Salah satu lulusannya yang encer otaknya, yang bernama Johannes Leimena alias Jo Leimena. Ia tak bisa diragukan lagi Keindonesiaannya. Sebagai pimpinan Jong Ambon, Jo Leimena hadir dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Dia termasuk pemuda yang merasa dirinya Indonesia. Dia wakil orang Ambon disitu.

Sebelum Jo Leimena ikut Kongres Pemuda, ada pemuda Ambon yang lebih gila darinya. Namanya Alexander Jacob Patty. Pernah kuliah kedokteran juga seperi Jo. Jika Jo, yang lebih muda dari Patty, bersekolah kedokteran di STOVIA Jakarta, maka Patty di NIAS Surabaya. Jika Jo akhirnya lulus dan jadi dokter, Patty dikeluarkan karena berpolitik. Akhirnya hanya bisa jadi mantri saja. Patty pernah mendirikan Sarekat Ambon. Patty berusaha menggalang orang-orang Ambon dalam pergerakan nasional. Patty pernah dibuang ke Boven Digoel.

Selain Jo Leimena, ada orang Ambon yang bernama Johannes juga dalam pergerakan nasional. Johannes Latuharhary, nama orang itu. Dia lebih tua dari Jo Leimena dan AJ Patty. Dia baru pulang ketika Kongres Pemuda II. Dia baru ikut pergerakan setelah lulus sebagai Meester in Rechten dari Universitas Leiden, Negeri Belanda dan kemudian bekerja di Pengadilan Surabaya. Di mata orang-orang Ambon, Johannes Latuharhary dianggap orang Ambon pertama yang lulus kuliah hukum di Leiden. Belakangan, dia juga ikut memimpin Sarekat Ambon. Setelah jadi Hakim dan pimpinan pengadilan negeri di Jawa Timur, Johannes Latuharhary keluar dari Departemen van Justitie (Departemen Kehakiman Belanda) untuk fokus di pergerakan nasional.

Menjelang berdirinya Republik Indonesia, dibentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Johannes Latuharhary salah satu anggotanya. Setelah RI berdiri, Jo Leimena pernah jadi Menteri Kesehatan di masa revolusi dan belakangan menjadi orang kepercayaan Soekarno dengan menjadi Wakil Perdana Menteri. Lalu Johannes Latuharhary menjadi Gubernur Republik pertama di Maluku.

Di jajaran orang Minahasa, nama Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangie atau Sam Ratulangie adalah nama penting dalam sejarah. Dia ikut pergerakan nasional sejak muda dan jadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) yang rajin menentang kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat Indonesia. Tentu saja Sam Ratulangie bukan satu-satunya Manado Kristen yang menentang pemerintah kolonial. Sudah ada sosok Thomas Najoan yang sosialis ikut gerakan buruh menentang pemerintah kolonial. Dia juga belakangan ikut di buang ke Boven Digoel. Setidaknya, dia berusaha kabur dari Digoel sebagai wujud perlawanannya kepada pemerintah kolonial.

Di kalangan Batak nama Todung Sutan Gunung Mulia dan Amir Syarifuddin juga tak bisa lepas dari pergerakan nasional. Gunung Mulia semula seorang guru yang pernah kuliah di Belanda. Pada 1935, dia menjadi anggota Volksraad. Mulia yang bermarga Harahap itu masih sepupu dengan Amir Syarifuddin. Amir Syarifuddin juga anggota Jong Batak ketika Kongres Pemuda 1928. Bahkan Amir adalah Bendahara Kongres.

Dua orang dari marga Harahap itu pernah jadi menteri Republik Indonesia. Gunung Mulia pernah jadi Menteri Pendidikan Republik Indonesia di masa kabinet Syahrir. Amir malah pernah jadi Perdana Menteri. Namun, akhir hidup Amir tragis karena Peristiwa Madiun. Tentu Amir tak disukai banyak orang Indonesia. Meski Amir, seperti juga Gunung Mulia, pernah ikut berjuang juga untuk menegakkan Indonesia. Alasan Amir tak disukai, pertama dia komunis meski berkeyakinan akhir Kristen. Kedua, karena Amir jelas dianggap murtad. Awalnya dia Muslim, namun kemudian masuk Kristen ketika hendak menikah.

Bung Hatta memberi kesaksian Arnold Mononutu:

“Orangtua anggota (Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda) banyak yang diancam oleh pemerintah jajahan. Mereka yang menjadi pegawai negeri disuruh memilih antara anaknya tetap menjadi anggota Perhimpunan Indonesia atau mereka sendiri keluar dari jabatan negara. Antara lain yang kena ancam ialah ayah Arnold Mononutu. Ayahnya menjadi komisi pada Kantor Residen di Manado. Ia disuruh memilih keluar dari Perhimpunan Indonesia atau, apabila ia tetap menjadi anggota, mulai bulan berikutnya tidak akan mendapat kiriman belanja lagi dari rumah [….] Mononutu membalas surat ayahnya bahwa ia menjadi anggota Perhimpunan Indonesia atas keyakinannya dan ia tidak dapat lagi mengundurkan diri. Dan karena itu ia memaafkan ayahnya apabila memutuskan kiriman uang untuk belanjanya,” tulis Hatta dalam Mohammad Hatta: Memoir (1979).

Setelah kiriman uangnya diputus, Mononutu pulang dan terlibat dalam pergerakan. Di masa tuanya ia adalah pembela Republik yang gigih di Indonesia Timur.


Uraian ini niscaya menjadi semacam penyadaran bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia hingga hari ini berhasil karena kesadaran akan nasionalisme. Demikian sehingga pemelintiran sejarah, entah oleh penggiringan opini yang tidak berimbang atau simplifikasi berlebihan dalam mengambil kesimpulan seperti yang dilakukan Masri Sitanggang, adalah contoh konyol dalam literasi kebangsaan yang sebaiknya tidak ditiru oleh siapapun.

(Seperti ditulis Donald Haromunthe di blog aslinya. Ikuti Donald)

Comments

comments