Thom AsyikSudah lumrah banyak yang tahu kisah tentang Rambo. Rambo dalam gaya Hollywood digambarkan sebagai veteran satuan elite baret hijau atau green berets, sosok penting dalam perang Vietnam.

Sosok Rambo yang awalnya diinspirasi tokoh novel First Blood karangan David Morrell tahun 1972. Pada tahun 1981, novel ini diangkat ke layar lebar dengan judul sama. Film ini sukses dan dibuat sekuelnya ‘Rambo: First Blood Part II tahun 1985’ hingga berlanjut dengan Rambo III dan Rambo IV.

Beberapa penggambaran menarik soal Rambo adalah kehebatannya mengalahkan satu batalyon pasukan Vietnam Utara. Badan kekar, rambut gondrong dengan ikat kepala serta gaya urakan, Rambo dicitrakan memiliki kemampuan tempur yang hebat dan jadi pahlawan. Rambo seolah menjadi citra heroik Amerika yang tampak ingin terlihat membela orang tertindas di negeri yang dipengaruhi oleh blok komunis China dan Uni Soviet kala itu.

Sosok Rambo, seperti halnya sosok rekaan Captain Amerika di zaman now adalah manipulasi halus Amerika dalam memoles citra hebat mereka. Fakta bahwa Rambo gagah dan hebat di medan perang melawan pasukan Vietnam Utara dalam film-film aksi Amerika, berbanding terbalik dengan fakta sejarah sebenarnya.

28277012_10215823569603428_5750772612232135306_nArsip harian Kompas pagi ini membukanya. Faktanya dalam perang dingin sejak 1955, tahun pemilu pertama di Indonesia, Amerika menyokong kekuatan Vietnam Selatan melawan Vietnam Utara yang dipengaruhi komunis. Sampai akhirnya Amerika terlibat terlalu jauh dengan ikut berperang tahun 1965 di Vietnam Utara lewat Operation Rolling Thunder, pasukan Amerika faktanya kesulitan melawan tentara wilayah utara yang akrab disebut tentara Vietkong.

Kecanggihan alat dan pesawat pengebom Amerika tak banyak membantu. Dengan strategi gerilya khas tentara Vietkong yang membangun lorong bawah tanah hingga berkilometer. Ditambah dukungan rudal antipesawat dari China, Tentara Vietkong berhasil membangun sistem pertahanan udara yang baik. Ratusan pesawat Amerika kala itu dilaporkan dapat dilumpuhkan pasukan Vietkong.

Kompas melaporkan dua Presiden, baik Lyndon B Johnson hingga suksesornya Richard Nixon tetap gagal menggempur Vietnam Utara. Pada tahun 1973 pihak Amerika memutuskan keluar dari Vietnam setelah kehilangan sekitar 58.000 pasukannya yang direkrut dari generasi muda mereka. Sementara dari pihak warga Vietnam, dilaporkan sekitar 2 juta jiwa tewas sebagai korban perang.

Dengan fakta sejarah kekalahan yang ada, film menjadi media efektif bagi Amerika menyembunyikan rasa malu atas kekalahan telaknya di Amerika. Imaji dibangun untuk menciptakan heroisme semu bagi publik Amerika dan juga dunia. Amerika menolak kalah mental, meski fakta perang fisik mereka gagal total meminjam istilah Zon.

Mantra media dengan sajian imaji yang terbungkus rapi, dibangun dengan seksama demi satu tujuan yang mirip kampanye Trump, Make America Great Again. Film hingga media lainnya yang memungkinkan, dipakai sebagai sarana memperkuat citra kuat dan tak terkalahkan. Dalam hal ini psikologi publik hendak dikuasai demi mengaburkan fakta sebenarnya bahwa Amerika bisa dikalahkan.

Selain belajar bahwa perang itu memakan korban tak sedikit. Kita mestinya belajar satu sisi tentang ketangguhan pasukan Vietkong yang mentalnya teruji melawan kebesaran Amerika dan teknologinya. Disini revolusi mental yang hilang senyap itu mesti diuji efektivitasnya membentuk ketangguhan masyarakat menghadapi perekonomian global dan tantangannya. Agar kita tak jadi korban perang ekonomi yang menggusur kepentingan rakyat.

Kedua, belajar dari mantra media Amerika. Dari kemampuan menyakinkan publik, kita mesti belajar membangkitkan kebanggaan rakyat pada negaranya meski dalam kondisi terpuruk sekalipun. Hal ini penting agar negara tak malah kalah oleh penyebar hoax komunisme dan kebencian sekelas Saracen atau MCA yang kerap merendahkan kekuatan negeri ini.

Salam damai rekan-rekan dari Merauke hingga Sabang. Siapkan mantramu hari ini, M E R D E K A!

 

Thomas Sembiring, Direktur Eksekutif Jangkar Nusantara
Reporter salah satu media di Jakarta

Comments

comments