Nyepi ThomasHari ini umat Hindu di Indonesia merayakan pergantian tahun menuju tahun baru Caka 1940 atau Nyepi. Suasana di Bali yang merupakan basis umat Hindu Indonesia pun mulai memasuki suasana khas dalam keheningan. Dalam suasana itu, masyarakat Hindu pun melakukan Catur Brata sebagai upaya pengendalian diri.

Catur Brata dalam tradisi Hindu Bali adalah merupakan konsep menepikan hidup sejenak dari kebiasaan sepanjang tahun. Empat pokok tindakan spiritual yang dilakukan dalam pengendalian diri ini adalah tidak menyalakan api/lampu (Amati Geni), tidak bekerja (Amati Karya), tidak menikmati hiburan (Amati Lelanguan) dan tidak melakukan perjalanan (Amati Lelungaan).

Merujuk pada I Gusti Ngurah Sudiana, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia wilayah Bali, sebagaimana dikutip dari VOA Indonesia, menyebut ada keunikan yang terjadi pada tahun ini bagi masyarakat hindu Bali. Nyepi tahun ini disebut bertepatan dengan peringatan Saraswati, sebuah peringatan akan turunnya ilmu pengetahuan bagi manusia. Peringatan Nyepi yang berbarengan dengan Hari Saraswati ini disebut langka dan terjadi sekali dalam periode ratusan tahun.

Perayaan Nyepi kali ini juga sedikit berbeda dari sebelumnya karena pihaknya menghimbau agar penyediaa jasa seluler tidak beroperasi selama 24 jam di Bali, kecuali untuk fasilitas darurat seperti di fasilitas umum Rumah Sakit hingga Bandara.

Hal ini disebut sebagai bagian dari upaya mereka mencegah kontroversi di sosial media terkait Nyepi dan juga bagian pengendalian diri terhadap penggunaan fasilitas internet.

“Dengan hubungan keluarga tanpa internet, kita akan langsung berbicara dengan keluarga, ngobrol dengan teman yang secara psikologis jauh akan lebih dekat,” ujar Sudiana.

Tentu saja melihat bagaimana konsep Nyepi bagi masyarakat Hindu Bali ini bisa membantu kita berefleksi. Sebab dengan segala hiruk pikuk dunia kita saat ini, masih ada sebuah pertahanan spiritual yang mengajak masyarakat hindu Bali, mundur sejenak bermenung dan mengendalikan diri. Mengendalikan pikiran akan dunia yang tak ada hentinya.

Konsep ini juga menarik, sebab disaat kita terbiasa merayakan pergantian tahun dengan kehebohan dan hiburan, sebaliknya masyarakat Bali mundur sejenak dalam keheningan. Seperti bayi yang sebelum lahir tetap hidup dalam samudera rahim bersama seluruh cinta semesta ibunya. Demikian masyarakat Bali berada dalam keheningan yang memaksa mereka berhenti dari tuntutan dunia yang kadang menghilangkan sisi humanis kita.

Nyepi pun secara tidak langsung “memaksa” anggota keluarga dalam satu rumah untuk lebih dekat satu sama lain dalam permenungan. Sebab tak ada keramaian yang memisahkan mereka. Momen yang intens dan berharga secara spiritual juga bisa dicapai bersama dalam kesempatan ini. Mendorong lahirnya momen saling berefleksi dan menghargai tiap pribadi dalam rumah yang mungkin jarang ditemukan diluar momen tersebut.

Ini belum termasuk bagaimana secara sosial ada momen belajar menumbuhkan toleransi diantara sesama kalangan berbeda agama yang ada disana. Juga dari aspek lain seperti penghematan listrik besar-besaran dan pengurangan polutan secara signifikan di seluruh pula selama 24 jam. Sesuatu yang barangkali tak bisa ditemukan di kota lain dimanapun di seluruh dunia, kecuali di Bali.

Lantas apakah secara ekonomi Bali juga ikut berhenti di kala Nyepi. Faktanya tidak demikian. Energi positif dari peringatan Nyepi ini juga rupanya melahirkan keunikan yang menarik banyak turis datang untuk mencobanya. Sensasi hidup sehari dalam keheningan dan tidak ada keriuhan, bukan sekadar baik secara spiritual namun juga melahirkan ketenangan psikis bagi yang rela berhenti sehari dari setahun aktivitas yang padat.

Kembali soal pengendalian diri ini, meski terlihat hanya sehari saja. Kita sebagai anak bangsa perlu belajar mengasah nurani dari inspirasi Nyepi. Bahwasanya kita pun perlu memiliki momen Nyepi sendiri dari kebiasaan buruk yang merusak alam, diri dan sesama kita.

Nyepi adalah panggilan universal untuk semua kita melakukan upaya pengendalian diri, bukan saja dari keburukan namun juga pekerjaan yang terlihat baik namun menyita banyak waktu kita. Dalam posisi kendali diri ini semua diajak untuk melihat bagaimana hidup mesti lebih harmonis diantara relasi dengan sesama maupun semesta alam.

Nyepi mengajak kita sekalian untuk lebih menempatkan posisi kita pada titik kebaikan. Termasuk bagaimana mengendalikan diri dari ujaran fitnah hingga kebencian di sosial media. Mengendalikan diri dari riuhnya jagad dunia maya yang kadang justeru menyajikan konten yang mengganggu pikiran. Melakukan yang lebih membawa kita pada harmoni perdamaian ketimbang telihat gagah menyerukan perbedaan yang berujung pada perpecahan.

Untuk anak negeri yang mengerti, mari belajar dari momen Nyepi dengan mengambil satu pilihan aksi untuk negeri ini. Melakukan pengendalian diri yang berdampak positif bagi kebaikan alam dan kehidupan masyarakat kita. Dalam diam melakukan satu kebaikan yang secara konsisten bisa mengurangi dampak buruk bagi lingkungan. Sebagai contoh, misalnya dalam konteks dunia maya. Kita bisa bersama, dalam keheningan sesaat hidup harian kita, menyebarkan postingan positif bagi jaring pertemanan kita.

Hal ini bisa dipilih sebagai laku hidup mengendalikan diri dari kebiasaan bersosial media yang hanya memenuhi hasrat diri semata. Menjadi kebiasaan bersosial media yang berdampak baik ditengah konten kebencian, fitnah dan HOAX yang tersebar serta mengancam kehidupan negeri kita.

Syukur bila dengan kebiasaan mengasah hati, dari kebiasaan bersosial media yang positif, kita bisa melakukan aksi sosial yang lebih baik di tengah masyarakat kita. Ambil bagian dalam perubahan negeri menuju kemajuan yang memerdekakan.

Selamat Tahun Baru Caka 1940 dan menghidupi semangat Nyepi kawan-kawan Nusantara.

 

Thomas Sembiring, Direktur Eksekutif Jangkar Nusantara

Comments

comments