15043692_343670272666763_6880122753005912064_n
“Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri” – R. A. Kartini
Entah harus sedih atau bersyukur membaca postingan di sosial media saat Hari Kartini kemarin. Serasa ada di bulan Desember mengenang sosok ibu dan perannya bagi anak-anak Indonesia yang berdaya. Serasa ada yang mengganjal pintu batin. Tok.. Tok.. Tok.
Bicara soal Kartini adalah bicara tentang perubahan sosial dan mendobrak konstruksi sosial yang timpang. Bukan sekadar Ibu dan kasih sayang, melainkan soal daya juang perempuan melahirkan perubahan sosial serta inspirasi besar pada zamannya.
Ketika Hari Kartini sekadar diperingati sebagai momen mengenang perjuangan Ibu, maka sebenarnya hal itu sukses menjaga langgengnya stereotif bahwa perjuangan perempuan akhirnya tetap sebagai Ibu. Tidak keliru, namun salah kaprah.
Hari Kartini dimaksudkan melampaui kesadaran soal peran domestik seorang perempuan mendidik generasi bangsa sebagai Ibu. Dimaksudkan agar perempuan juga percaya dan bisa menjadi perintis perubahan sosial, pejuang anti korupsi,  pengusaha yang memberi dampak sosial positif, Profesor, psikolog handal bahkan antariksawan. Sebagaimana laki-laki bisa melakukannya. Meski tak semua hal tentu saja terlihat cocok dijalani.
Poinnya Hari Kartini bukan Hari Ibu. Momen dimana kita menghargai peran dasar dan luar biasa seorang Ibu. Hari Kartini adalah momen kesadaran bahwa perempuan dipanggil melakukan tindakan mendasar dan besar bagi lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya.
Paling sederhana panggilan menjadi Kartini masa kini adalah perubahan mindset. Misalnya soal mendidik anak-anak tak melulu soal PR sekolah dan pesan baik yang kurang relevan. Bisa dengan pesan utama agar anak-anak jujur dan tidak korupsi serta cinta pada keberagaman bangsanya. Mendidik anak untuk mengasihi sesamanya yang berbeda suku, agama, warna kulit dan nominal jajan. Mendidik anak tidak melakukan bully, apalagi yang sifatnya berbau SARA agar di masa depan kita punya generasi cerdas dan waras.
Sebab meski terlihat kecil, hal itu begitu mendasar dan besar pengaruhnya ditengah mengerikannya perilaku korupsi bangsa ini. Menjijikkannya gerakan yang hendak menyeragamkan semua dan memberangus kebudayaan. Dan banyak dari praktik jahat itu kadang dilakukan dengan menutupinya memakai dalil suci. Padahal korupsi dan anti keberagaman jelas sangat bertentangan dengan pesan cinta dan perubahan dalam ajaran agama.
Kalau Hari Kartini gagal mendorong perubahan mindset perempuan soal panggilan “jihad” mereka menantang situasi sosial yang jahat, sebaiknya cukup para perempuan bersuara di bulan Desember saja. Atau mungkin sudah saatnya ganti hari saja.
Misalnya, saya usul baiknya kita ganti saja Hari Kartini dengan Hari Malahayati yang memimpin pasukan Aceh menjaga martabat bangsanya di peperangan.  Atau Hari Butet Manurung, sosok yang mengorbankan kesempatannya menjadi ibu biologis bagi anak kandungnya. Tapi menjalani peran sebagai ibu bagi banyak anak yang tak bisa mendapat akses pendidikan di pedalaman hutan sana. Menjaga sebuah generasi pinggiran dari marginalisasi yang lebih mengerikan akibat dari kalimat luhur, PEMBANGUNAN.
Cocok kam rasa?
Thomas Sembiring,
Direktur Eksekutif Jangkar Nusantara
=Gerakan virtual revitalisasi Pancasila=

Comments

comments