Pintu Depan

JN-PONTIANAK, Tanggal 1 Juni sudah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai Hari Lahir Pancasila. Penetapan tersebut tentunya dapat menjadi momentum refleksi bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk terus merawat dan mengimplementasikan nilai – nilai Pancasila dalam kehidupan sehari – hari, minimal di lingkungan sekitar tempat tinggal. Siswa sebagai salah satu elemen masyarakat sekaligus bibit emas penerus bangsa juga harus paham dan mengimplementasikan Pancasila, paling tidak di lingkungan sekolah.

Hendrick Jorgensen, salah satu siswa dari SMA Santo Paulus Pontianak misalnya, mengutarakan bahwa ia selalu berusaha untuk mewujudnyatakan nilai – nilai Pancasila dalam kehidupannya. “Dalam berelasi, saya tidak membeda – bedakan teman – teman saya. Saya percaya bahwa perbedaan bukanlah menjadi penghalang untuk menjalin pertemanan. Perbedaan justru adalah sarana untuk saling menguatkan”, jelas pemuda yang duduk di bangku kelas sepuluh tersebut.

Tidak hanya Hendrick, ada juga siswa SMA Santo Paulus yang bernama Trivonia Paula, mengungkapkan rasa bangganya terhadap Pancasila. Ia pun mengatakan, sebagai bentuk nyata dari rasa bangganya, ia tidak mau hanya sekedar menghafal sila – sila dalam Pancasila, tetapi juga berusaha mengimplementasikannya dalam kehidupan. Siswa yang menganut agama Katolik ini mengutarakan bahwa ia sering berkunjung ke rumah teman – temannya di sekolah yang agamanya berbeda dengannya dan sedang merayakan Hari Raya agamanya misalnya Idul Fitri. “Jadi selain silahturami, aku juga ikut bersama dalam kebahagiaan teman – teman. Aku percaya ini salah satu hal sederhana yang mempunyai dampak besar terutama dalam rangka menumbuhkan sikap toleransi antar sesama”, ungkapnya.

Maria Carolina juga tidak ketinggalan menyampaikan pendapatnya soal mengimplementasikan Pancasila. “Saya selalu dididik oleh bapak dan ibu guru untuk peduli terhadap sesama. Ini sebagai bentuk aplikasi dari sila ke dua Pancasila yang berbicara soal kemanusiaan. Jadi ketika ada teman yang menghadapi musibah, saya akan berusaha membantu semampu saya”, katanya.

Sementara itu, salah satu guru SMA Santo Paulus Pontianak, yakni Bapak Kristoforus Bagas Romualdi, mengatakan bahwa pada dasarnya siswa harus mempunyai kesadaran dan kemauan untuk mengimplementasikan Pancasila. “Para pendiri bangsa sudah mewariskan harta yang luar biasa, yakni Pancasila untuk terus kita rawat dan tentunya diimplementasikan. Siswa sebagai generasi intelektual yang kelak akan menjadi penerus bangsa mempunyai tugas untuk itu dan para guru akan selalu berusaha untuk mendampingi mereka agar tumbuh dan berkembang dengan dijiwai semangat Pancasila”, jelasnya.


*Laporan  : Christian Pinnion/KontributorJN

*Tribun Pontianak Edisi 1 Juni 2018

 

Comments

comments